Jakarta — Pemerintah tengah menyiapkan aturan penting yang akan mengubah wajah Bursa Efek Indonesia (BEI). Proses ini disebut demutualisasi, sebuah langkah yang diyakini mampu membuat pasar modal Indonesia lebih profesional, transparan, dan kompetitif di tingkat global.
Demutualisasi pada dasarnya mengubah struktur kepemilikan bursa. Jika selama ini BEI dimiliki oleh para anggota, yakni perusahaan efek, nantinya kepemilikan bisa lebih luas dan terbuka bagi pihak lain. Dengan begitu, potensi benturan kepentingan dapat ditekan, sementara tata kelola bursa diharapkan semakin kuat.
Langkah ini bukan hanya soal struktur, tapi juga strategi besar untuk masa depan. Dengan sistem baru, BEI diyakini lebih gesit menghadapi dinamika global. Produk-produk pasar modal yang lebih beragam bisa lahir, mulai dari derivatif, ETF, hingga instrumen pembiayaan untuk sektor infrastruktur dan energi. Harapannya, pasar modal Indonesia menjadi lebih dalam, likuid, dan menarik bagi investor.
Meski begitu, tantangan tetap ada. Free float saham di Indonesia masih relatif rendah, sehingga pergerakan harga belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pasar. Partisipasi investor domestik juga perlu ditingkatkan, baik dari kalangan institusi maupun ritel. Artinya, demutualisasi bukan solusi tunggal, melainkan bagian dari upaya besar yang harus didukung oleh berbagai kebijakan lain.
Indonesia sebenarnya tidak berjalan sendirian. Negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan India sudah lebih dulu melakukan demutualisasi. India bahkan mencatat lonjakan kapitalisasi pasar yang luar biasa, dari USD 1,56 triliun pada 2014 menjadi USD 5,17 triliun pada 2024. Keberhasilan itu lahir dari kombinasi tata kelola yang kuat, partisipasi investor lokal, dan pemanfaatan teknologi.
Kini, semua mata tertuju pada langkah Indonesia. Jika aturan demutualisasi benar-benar dijalankan dengan konsisten, pasar modal Tanah Air berpeluang besar naik kelas. Bursa Efek Indonesia bukan hanya menjadi arena transaksi saham, tapi juga simbol modernisasi ekonomi yang siap bersaing di panggung global. (red)
