Jakart – Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, resmi menjabat sebagai Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sosoknya bukan nama baru di dunia keuangan dan pasar modal Indonesia, karena sudah lama berkecimpung di sektor tersebut.
Perempuan kelahiran Cepu, 28 November 1975 ini, memulai kariernya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2005. Namanya mulai banyak dikenal ketika pada 2009 ia dipercaya menjadi Direktur Pengembangan Pasar BEI, menjadikannya salah satu direksi termuda saat itu.
Menjadi pimpinan di usia relatif muda bukan hal mudah. Kiki mengaku sempat menghadapi tantangan, termasuk soal kepercayaan dan pandangan terkait usia maupun gender. Namun baginya, kompetensi dan kinerja adalah jawaban utama untuk membuktikan diri.
Setelah berkiprah di BEI, kariernya terus menanjak. Ia pernah menduduki posisi strategis seperti Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas, sebelum akhirnya bergabung ke jajaran Dewan Komisioner OJK hingga dipercaya menjadi ketua.
Strategi Investasi di Luar Profesi
Di luar perannya sebagai regulator, Kiki juga dikenal disiplin dalam mengelola keuangan pribadi. Sejak muda, ia sudah dibiasakan menabung dan berinvestasi, dimulai dari instrumen yang sederhana seperti deposito.
Karena aturan profesi yang membatasi transaksi saham langsung, ia memilih investasi properti, khususnya di pasar sekunder. Strateginya fokus pada lokasi yang potensial, bahkan sebelum kawasan tersebut berkembang sepenuhnya.
Hasilnya, ia pernah meraih kenaikan nilai investasi hingga sekitar 25 persen dalam waktu kurang dari setahun. Keuntungan tersebut kemudian kembali diputar untuk membeli aset properti lainnya. (red)
