lintasdesa.id – Di saat sebagian umat Islam di Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat pemerintah, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Selasa, 18 Februari 2026. Keputusan itu bukanlah kejutan. Ia hadir sebagaimana mestinya: tenang, konsisten, dan berpijak pada metode yang telah lama mereka yakini.
Bagi Muhammadiyah, penetapan awal puasa bukan perkara menunggu langit senja atau kesaksian mata manusia semata. Ia adalah hasil dari perhitungan panjang—bukan hanya angka dan garis edar benda langit, tetapi juga sejarah pemikiran keislaman yang memilih kepastian sebagai pegangan.
Dari Kegelisahan Awal hingga Pilihan Metode
Sejak berdirinya pada 1912, Muhammadiyah membawa semangat pembaruan. Di tengah masyarakat yang kala itu masih bergantung sepenuhnya pada rukyat tradisional, Muhammadiyah melihat satu kegelisahan: mengapa ibadah yang sama bisa jatuh pada hari yang berbeda hanya karena cuaca atau keterbatasan penglihatan?
Dari kegelisahan itulah Muhammadiyah mulai memandang ilmu falak modern sebagai jalan keluar. Bukan untuk menafikan teks agama, melainkan untuk membacanya dengan bantuan ilmu pengetahuan. Maka dipilihlah hisab hakiki, sebuah metode perhitungan astronomi yang berangkat dari data ilmiah tentang pergerakan matahari dan bulan.
Seiring waktu, metode itu berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai hisab hakiki dengan kriteria wujudul hilal.
Apa Itu Wujudul Hilal?
Dalam pandangan Muhammadiyah, hilal dianggap “wujud” atau ada apabila tiga syarat terpenuhi:
1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi) sebelum matahari terbenam.
2. Ijtimak terjadi sebelum magrib di wilayah yang dijadikan acuan.
3. Bulan terbenam setelah matahari, meskipun hanya beberapa menit.
Jika ketiga syarat ini terpenuhi, maka bulan baru telah masuk—tanpa harus menunggu apakah hilal itu terlihat atau tidak oleh mata manusia.
Di titik inilah Muhammadiyah mengambil sikap yang tegas sekaligus filosofis: keberadaan hilal adalah soal eksistensi astronomis, bukan soal keterlihatan visual.
Mengapa Tidak Menggunakan Rukyat?
Bagi Muhammadiyah, rukyat sangat dipengaruhi faktor non-ilmiah: cuaca, polusi, keterbatasan alat, bahkan subjektivitas pengamat. Dalam dunia yang sudah mengenal teleskop, satelit, dan perhitungan presisi hingga detik, menggantungkan ibadah pada langit yang tertutup awan dianggap menyisakan ketidakpastian.
Karena itu, Muhammadiyah memilih jalan hisab sebagai bentuk ikhtiar maksimal manusia membaca sunnatullah—hukum alam yang diciptakan Tuhan dan dapat dihitung dengan pasti.
Menuju Kalender Islam Global
Langkah Muhammadiyah tidak berhenti pada penetapan awal Ramadan semata. Dalam dua dekade terakhir, organisasi ini mendorong gagasan Kalender Islam Global Tunggal, sebuah sistem penanggalan yang memungkinkan umat Islam di seluruh dunia memulai bulan Hijriah secara serentak.
Gagasan ini berangkat dari pertanyaan sederhana namun mendasar: jika waktu salat dapat dihitung secara global dengan presisi, mengapa awal bulan Hijriah tidak bisa?
Melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah menyusun kalender jauh hari ke depan—bahkan hingga puluhan tahun—sehingga umat dapat merencanakan ibadah, pendidikan, dan aktivitas sosial tanpa menunggu keputusan tahunan.
Sebuah Pilihan Jalan, Bukan Sekadar Perbedaan
Keputusan Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026 bukanlah bentuk pembangkangan terhadap negara, melainkan konsistensi pada metodologi yang telah dipilih sejak lama. Di republik yang memberi ruang bagi perbedaan ijtihad, pilihan itu hidup berdampingan dengan mekanisme sidang isbat pemerintah.
Di satu sisi, ada yang menunggu langit memerah di ufuk barat. Di sisi lain, ada yang membaca langit melalui angka dan rumus. Keduanya berangkat dari niat yang sama: memastikan ibadah dijalankan pada waktu yang diyakini benar.
Dan di situlah Indonesia berdiri—di antara keyakinan, ilmu, dan tradisi—membiarkan perbedaan berjalan, selama tujuannya tetap satu: mendekat kepada Tuhan.@red
