Gunung Semeru Erupsi (24/02/2026)
lintasdesa.id Rabu, 25 Februari 2026
LUMAJANG & HALMAHERA – Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Lumajang ketika langit yang seharusnya biru pudar berubah menjadi kanvas abu-abu yang muram. Di kaki Gunung Semeru, udara pagi yang dingin mendadak terasa berat oleh partikel halus yang turun tanpa suara. Pada Rabu (25/2/2026), sang Mahameru kembali menunjukkan taringnya, mengirimkan pesan dari perut bumi yang belum juga tenang.
Semeru: Dendam di Besuk Kobokan
Pukul 06.37 WIB, sebuah dentuman yang lebih mirip geraman dalam terekam oleh seismogram. Tak lama kemudian, kolom abu setinggi 400 meter membubung, meliuk ditiup angin ke arah timur laut. Namun, itu hanyalah babak terbaru dari drama panjang yang melanda Jawa Timur. Hanya selang beberapa jam sebelumnya, pada Selasa petang, Semeru sempat melontarkan jelaga setinggi 3.000 meter ke angkasa—sebuah pemandangan kolosal yang mengerikan sekaligus memukau.
Di Besuk Kobokan, urat nadi aliran lahar yang kini menjadi zona merah sejauh 13 kilometer, kesunyian terasa mencekam. Warga di sana bukan lagi orang asing bagi amukan gunung. Mereka adalah saksi hidup dari 400 kali letusan yang telah dicatatkan Semeru sejak awal tahun 2026.
Setiap kali hujan deras mengguyur puncak, kecemasan berganti rupa menjadi banjir lahar dingin yang menyeret batu dan pasir. “Kalau kita lengah, bahaya banjir lahar bisa mengancam kapan saja,” ujar Isnugroho dari BPBD Lumajang, suaranya mencerminkan kewaspadaan yang telah menjadi bagian dari napas harian warga lereng Semeru.
Ibu: Simfoni Api di Utara Maluku
Sementara itu, ribuan kilometer di timur Nusantara, Gunung Ibu di Halmahera Barat tak mau kalah dalam “simfoni api” ini. Jika Semeru adalah raksasa yang meledak-ledak, Ibu adalah tungku yang terus membara tanpa henti.
Pada Senin (23/2/2026), Ibu mencatatkan rekor yang sulit dipercaya: 120 kali erupsi dalam satu hari. Desa Naga yang terletak di kakinya kini berselimut debu. Pohon-pohon kelapa yang biasanya hijau segar, kini tertunduk lesu di bawah beban abu vulkanik berwarna kelabu.
Masyarakat di sana berjalan dengan masker yang menempel erat di wajah, mata mereka menyipit menghindari perihnya debu belerang. Bagi warga Maluku Utara, suara gemuruh dari puncak Ibu bukan lagi sebuah kejutan, melainkan pengingat bahwa mereka hidup berdampingan dengan kekuatan alam yang purba. Dengan 305 kali letusan sepanjang tahun 2026, Ibu tetap berada pada Level II (Waspada), terus-menerus mengembuskan abu setinggi 400 hingga 1.000 meter.
Ketika Bumi Tak Lagi Diam
Dua gunung, dua pulau, namun satu narasi: Indonesia sedang berada dalam periode vulkanik yang intens. Data dari MAGMA Indonesia menunjukkan lebih dari 760 letusan telah mengguncang tanah air di dua bulan pertama tahun ini saja.
“Alam memiliki jam biologisnya sendiri. Kita hanya tamu yang harus tahu kapan harus mundur dan memberi ruang bagi bumi untuk bernapas,” tulis seorang pengamat di Pos Pantau.
Hingga saat ini, status Semeru tetap tegak di Level III (Siaga), sementara Ibu mengintai di Level II (Waspada). Petugas tak henti-hentinya mengingatkan: jangan ada aktivitas di zona bahaya. Karena di balik indahnya siluet gunung saat matahari terbenam, tersimpan energi yang mampu mengubah peta kehidupan dalam sekejap mata.@red
